MENGENAL TRADISI "NYEKAR" MASYARAKAT JAWA
Nama : Ignaciana Sabila Massaid
Kelas : XII-A
Presensi : 19
Tujuan pembuatan : guna memenuhi tugas membuat Teks LHO mata pelajaran bahasa Indonesia Tingkat Lanjut guru pengampu Ibu Raida Dewi Hasnawati, S.Pd.
Tradisi Nyekar Masyarakat Jawa
Indonesia memiliki beragam tradisi yang sudah diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang. Tradisi penuh makna dan filosofi tersebar merata di seluruh Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, tradisi di Indonesia semakin lama semakin banyak yang ditinggalkan secara tidak sengaja. Hal itu terjadi karena sekarang lebih mudah untuk mengekspos tentang dunia luar dan kemudian menganggap bahwa budaya dari dunia luar lebih seru. Di lain sisi, sebenarnya masih banyak tradisi yang kini masi cukup banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah tradisi nyekar atau biasa disebut juga dengan ziarah kubur.
Tradisi nyekar merupakan satu di antara tradisi untuk menghormati serta mendoakan orang yang telah tiada agar tenang di sisi Yang Maha Esa. Banyak orang yang beranggapan bahwa tradisi nyekar ini merupakan tradisi umat Islam. Dalam agama Islam sendiri terdapat dasar atau dalil yang menganjurkan tradisi nyekar, yaitu dalil yang menganjurkan ziarah kubur dan meletakkan bunga di atas kuburan. Namun pada dasarnya, nyekar sebenarnya bukan tradisi umat Islam secara langsung, melainkan tradisi yang dirawat sejak dulu secara turun-temurun hingga mengalami proses akulturasi dan asimilasi budaya.
Selain agama Islam, agama-agama lain yang khususnya bertempat tinggal di Jawa juga melaksanakan tradisi nyekar. Contohnya seperti agama Katolik yang melakukan kegiatan nyekar setiap hari-hari besar Katolik. Singkatnya, tradisi nyekar bersifat universal dan kerap dijumpai pada setiap kebudayaan.
Tradisi nyekar ini awal mulanya dilakukan oleh penganut kepercayaan Jawa Kuno dan Hindu. Mereka sering melakukan persembahan kepada orang yang telah meninggal berupa sesaji yang di dalamnya ada bunga atau disebut "Sekar" dalam Bahasa Jawa. Namun, ketika Islam masuk ke Jawa terjadilah akulturasi budaya antara Islam-Jawa-Hindu. Masyarakat mencampurkan budaya tersebut saat berziarah kubur yang dalam Islam menjadi sisi positif sebagai pengingat kematian.
Banyak orang yang khususya beragama Islam melakukan nyekar ketika mendekati bulan Ramadhan. Dalam pelaksanaannya, sebenarnya tidak ada ketentuan khusus kapan pelaksanaan tradisi nyekar. Namun, sebagian orang beranggapan bahwa terdapat beberapa waktu khusus dimana nyekar dilakukan, seperti ketika menjelang bulan Ramadan, hari Jumat, malam hari, hari hari besar keagamaan, dan lain sebagainya. Namun, pada dasarnya nyekar boleh dilaksanakan kapanpun karena tujuan dari ziarah adalah mengingatkan kepada akhirat.
Tradisi nyekar di Jawa pada intinya adalah memebersihkan makam yang dikunjungi, mendoakan makan yang diziarahi, dan menaburkan bunga. Namun, dalam islam sendiri terdapat beberapa urutan ketika melaksanakan tradisi nyekar, yang pertama yaitu mengucapkan salam ketika memasuki area pemakaman. Tujuan pengucapan salam bagi seorang peziarah adalah berharap untuk mendapatkan ampunan dari Allah bagi para penghuni kubur. Selanjutnya adalah membaca istigfar dan membaca surah surah Al-Quran. Bacaan Al-Quran yang dibacakan diantaranya membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebanyak tiga kali, membaca Ayat Kursi dan surah Yasin serta membaca tahlil, zikir, dan shalawat. Doa terakhir adalah membacakan doa ziarah kubur.
Selain berdoa, tradisi nyekar sering kali dibarengi dengan kegiatan tabur bunga ke pusara atau makam orang yang telah meninggal. Alasan adanya penaburan bunga adalah karena bunga memiliki aroma yang wangi dan bagi orang Jawa sendiri, bunga dan aroma yang wangi membuat suasana lebih sakral. Taburan bunga biasanya ditaburkan bersamaan dengan siraman air agar bunga tidak cepat layu. Beberapa jenis bunga yang sering digunakan untuk tradisi nyekar adalah bunga kenanga, melati, mawar merah, mawar putih, melati gambir, dan sedap malam.
Tradisi nyekar di Jawa merupakan tradisi yang terbilang cukup unik di Indonsia. Hal ini bisa dikatakan demikian karena tradisi nyekar sendiri dianggap memiliki hubungan dengan bagaimana kedekatan manusia dengan pendahulunya. Bisa dikatakan juga bahwa tradisi nyekar adalah bagaimana manusia dapat lebih menghargai jasa maupun pengalaman bersama mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Secara psikologis, nyekar atau ziarah kubur dapat membantu seseorang menguatkan kembali ikatan emosional dengan mendiang yang telah meninggal dunia. Manfaat lain yang didapatkan saat melasanakan tradisi nyekar diantaranya adalah dapat mendoakan orang yang diziarahi, mengenali silsilah dalam keluarga, dan dapat mengingatkan manusia akan adanya hari kematian dan kehidupan selanjutnya di akhirat. Hal ini nantinya akan mendorong manusia untuk semakin rajin dalam beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Yang Kuasa.
Beberapa Dokumentasi Tradisi Nyekar :




Komentar
Posting Komentar